MIMPI YANG AKU HARAPKAN JADI KENYATAAN

Keliling dunia bukan suatu hal yang mustahil bagi sebagian orang yang berduit. Hari ini tamasya ke London besok rapat pemegang saham di New York lusa pertemuan keluarga di Berlin minggu depan menghadiri undangan pernikahan teman di Melbourne dan seperti itu seterusnya, baginya dunia adalah rumahnya, dia bebas ke manapun yang ia inginkan, tampa memikirkan suatu benda yang terbuat dari kertas berukuran 7×15 cm dan orang-orang di seluruh dunia biasa menyebutnya uang. Di dalam otaknya yang dia pikirkan hanya bagaimana ia bisa menyenangkan hatinya dengan keliling dunia tersebut. Tapi bagi sebagian orang yang tongpes alias kantong kempes, keliling dunia adalah suatu hal yang mustahil. Mereka hanya bisa bermimpi, membayangkan betapa enaknya bisa keliling dunia setiap hari. Bahkan kadang sebagian orang hanya hidup dalam mimpinya, atau dengan kata lain mereka hanya bisa bermimpi, bermimpi dan terus bermimpi, mereka tidak menyadari bahwa ini di kehidupan nyata bukan di dunia mimpi.
Mimpi bagi saya bukanlah suatu hal yang mustahil, karena saya pernah dengar ada oarng yang pernah berkata, dan kata katanya itu terus teringat di dalam benak saya sampai sekarang, kata-katanya seperti ini ”apa yang kamu pikirkan, apa yang ada di dalam otakmu, apa yang ada dalam hatimu, apa yang kamu harapkan terjadi, itulah yang akan benar-benar terjadi di dalam hidupmu baik sekarang maupun di kemudian hari”. Kalau dipikir-pikir kata-kata ini ada benarnya juga, sudah beberapa kali apa yang saya pikirkan telah menjadi kenyataan.
Lidah adalah bagian dari tubuh kita yang paling sulit dijinakkan. Dengan lidahnya seseorang dapat menyakiti teman-temannya, mengadu domba dua orang sahabat, menciptakan pertengkaran diantara pasangan suami-istri, menyebarkan gosip tak sedap, bahkan dengan satu kata dari lidah seorang presiden dapat menyebabkan kematian seorang terpidana mati yang lagi apes gara-gara gagal meyakinkan sang presiden bahwa ia tidak bersalah. Lidah itu seperti api, yang apabila dapat kita kendalikan, maka ia akan sangat bermanfaat, tetapi sebaliknya apabila tidak terkendali, ia dapat sangat menghancurkan. Oleh karena itu salah seorang guru sekolahku pernah memberi semacam peringatan kepada saya untuk selalu menjaga lidah dan perkataanmu, karena semua yang diucapkan oleh mulutmu semuanya meluap dari dalam hatimu.
Lalu, apa hubunganya lidah, perkataan atau ucapan dengan mimpi? Diatas sudah saya katakan bahwa apa yang dicapkan oleh mulutmu itu semuanya meluap dari dalam hatimu. Saya pernah punya pengalamam yang boleh dibilang buruk. Pada suatu kesempatan di tengah-tengah jam istirahat sekolah, menjelang ujian akhir nasional, semua teman-teman saya sibuk membicarakan kelanjutan studi nya, ada yang bilang ke Surabaya masuk salah satu universitas terbesar dan terkenal di sana, ada yang merencanakan kuliah di Salatiga, ada yang mau masuk D3 pariwisata, D1 sebuah lembaga pendidikan yang promosinya paling gencar, dengan iming-iming yang mengiurkan, hingga dapat menyebabkan seorang anak lulusan SMA yang polos merengek-rengek kepada orang tuanya untuk dapat masuk ke sana, tetapi pada akhirnya sekarang saya tahu seperti apa sesungguhnya lembaga pendidikan tersebut. Tak disangka salah seorang teman saya menyeletuk dan bertanya kepada saya kemana saya akan meneruskan pendidikan saya. Maka langsung saja saya jawab sekenanya, apa yang ada di dalam pikiran saya pada saat itu. Celakanya apa yang ada didalam pikiran saya pada saat itu adalah pacul, yakni semacam alat pertanian yang biasa digunakan oleh para pertani untuk mencangkul sawahnya.
Beberapa bulan kemudian, setelah ujian nasional, saya lulus dengan nilai yang cukup menyedihkan. Nilai 6 untuk bahasa Indonesia, 5 untuk IPS dan 4,5 untuk bahasa Inggris!, wow…! keren. Bahkan nilai bahasa Inggris saya mendekati standart nilai minimal kelulusan ujian nasional pada saat itu, yaitu 4.01. lalu saya mencoba ikut seleksi penerimaan mahasiswa baru di salah satu universitas terkenal di kota Malang. Saya mecoba belajar lebih giat untuk menembus ketatnya persaingan calon maba. Semua buku dari kelas1 hingga kelas 3 saya pelajari ulang setiap hari. Saya nggak peduli waktu, yang ada dalam pikiran saya pada saat itu hanyalah bagaimana carannya agar bisa masuk ke universitas tersebut sehingga tidak mengecewakan kedua orang tua saya. Tapi kenyataan berkata lain, setelah test seleksi, dan pengumuman calon maba yang lolos seleksi sudah beredar di surat kabar, nama saya tidak ada pada daftar calon maba yang lolos seleksi tersebut. Saya coba lebih teliti lagi mencari, dan memang benar nama saya tidak tertera di daftar calon maba tersebut. Ah… paling saya kurang beruntung, pikir saya pada saat itu, tidak lolos di universitas tersebut kan masih banyak universitas lainnya, saya mencoba menghibur diri pada saat itu. Tapi kenyataan memang harus berkata lain pada saat itu, kedua orang tua saya kehabisan dana, semua dana dialokasikan untuk adik saya yang pada saat itu juga harus menjadi siswa baru di salah satu SMA terkenal di kota Madiun. Betapa malangnya saya pada saat itu, merana, dan meratapi nasib yang harus berhenti dengan sangat terpaksa dari dunia pendidikan.
Orang tua saya memiliki sebidang lahan kosong di belakang rumah. Suatu ketika saat saya sedang merenung sendirian, saya melihat sebuah pacul yang tergeletak begitu saja dan tak terurus. Saya ambil dan saya berpikir dari pada nganggur lebih baik melakukan sesuatu yang berguna. Lalu saya mulai mencangkuli lahan kosong yang ada di belakang rumah, dan saya tanami beberapa tanaman seperti ketela, mangga, dan pisang, saya berpikir mungkin dengan ini saya bisa membantu meringankan beban orang tua untuk membiayai studi saya. Eitt…tunggu sebentar, pacul, yah… pacul, yakni semacam alat pertanian yang biasa digunakan oleh para pertani untuk mencangkul sawahnya. Sungguh tidak dapat dipercaya pada saat itu saya benar –benar memegang pacul. Apa yang saya katakan, apa yang saya ucapkan, yang menjadi jawaban saya pada saat salah seorang teman saya nyeletuk dan bertanya pada saya dulu sebelum ujian nasional, benar-benar terjadi.
Gila, benar-benar gila apa yang telah terjadi pada saya. Seandainya saya dulu jawab bahwa saya akan melanjutkan studi di Surabaya, Salatiga, ke universitas terbaik se Indonesia, atau ke luar negeri, seperti London, New York, Berlin, atau Melbourne, pasti saat ini saya tidak ada di sini, di negeri tercinta ini Indonesia. Ya, penyesalan memang selalu datang di akhir acara, padahal ia sudah tidak diundang, tetap saja ia datang.
”Apa yang kamu pikirkan, apa yang ada di dalam otakmu, apa yang ada dalam hatimu, apa yang kamu harapkan terjadi, itulah yang akan benar-benar terjadi di dalam hidupmu baik sekarang maupun di kemudian hari”. Perkataan ini memang telah benar-benar terjadi dalam kehidupan saya. Yang terpenting bagi saya saat ini adalah berusaha menjaga hati dari hal-hal yang negatif, dan mengisi hati dengan hal-hal yang positif, seperti London, New York, Berlin, atau Melbourne saya datang, tunggu saya, dan sebagainya. Dengan begitu secara otomatis jika hati saya positif, maka semua kata-kata atau ucapan yang keluar dari mulut saya juga positif, karena sumber dari segala sesuatu itu berasal dari hati. Ini bukan cuma mimpi, karena saya percaya mimpi akan bisa menjadi kenyataan apabila saya pikirkan saya tekuni, dan yang pasti saya berusaha untuk meraih mimpi-mimpi tersebut, biar tidak disebut hanya hidup dalam mimpi, tentunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s