KOTOR

Pada suatu kesempatan, sekolah saya mengadakan suatu acara yang mungkin acara tersebut adalah acara yang paling dibenci oleh para murid, yaitu kerja bakti. Maklum sekolah saya pada waktu itu adalah salah satu sekolah elite di keresidenan Madiun. Umumnya anak-anak yang sekolah disana berasal dari keluarga yang berada, jadi mereka tahu betul apa yang namanya ”kotor”. Hanya kebetulan saja atau malah bisa dibilang saya ini sedang apes karena bersekolah disana, karena orang tua saya bukan termasuk keluarga yang berada, dengan penghasilan yang pas-pasan, maksudnya pas butuh pas ada. Jadi secara tidak langsung saya juga mengikuti adat kebiasaan murid-murid disana, yaitu membenci yang namanya ”kotor”.
Biasanya pihak sekolah mengadakan acara kerja bakti karena melihat halaman sekolah yang nggak karuan, ditambah tukang kebunnya mungkin lagi males karena gaji belum cair. Kebetulan pada saat itu sedang ada momen yang boleh dibilang sangat tepat, yaitu tujuh belasan, sehingga bisa dijadikan alasan oleh para guru untuk ”menyiksa” para muridnya.
Sebelum berangkat sekolah saya mencari ide agar bisa menghindari acara yang terpaksa saya anggap memuakkan tersebut. Setelah berpikir sejenak saya menemukan ide yang mungkin agak brilian tapi sedikit bodoh, yaitu tidak membawa alat kerja bakti yang sudah diperintahkan oleh bapak guru sehari sebelumnya. Bayangkan diperintah membawa alat, malah nggak bawa, padahal kalau dipikir dengan membawa alat-alat kerja bakti yang benar tentunya, dapat menghindarkan kita dari resiko yang namanya ”kotor” tersebut. Ini berarti keluar dari kamar mandi, kepeleset masuk got, harusnya bisa bersih malah minta kotor.
Saya berpikir dengan tidak membawa alat kerja bakti mungkin dapat menghindarkan saya dari kekotoran, karena saya pikir murid yang tidak membawa alat pasti tidak disuruh kerja bakti, mungkin apes-apesnya diminta lari keliling lapangan bola basket tiga kali. Benarkah itu? Ternyata tidak, maksudnya tidak benar alias salah besar. Para murid yang tidak membawa alat tetap diminta ikut berpartisipasi dalam acara kerja paksa, eh…maksudnya kerja bakti tersebut, resiko ditanggung sendiri, tidak membawa alat, pakai tangan kosong. Maka dengan sangat terpaksa dan dipaksa saya mengikuti acara kerja paksa, eh kerja bakti tersebut maksudnya. Mulai mencabuti rumput, memotong pohon, hingga memunguti benda-benda yang biasa disebut sampah, itu semuanya saya lakukan dengan tangan kosong. Kalau bertarung dengan tangan kosong dan menang, itu baru hebat namanya, tapi ini memunguti sampah pakai tangan kosong! Ini namanya kebodohan. Pemulung pun memunguti sampah nggak pernah pakai tangan kosong tapi pakai sumpit.
Begitulah kisah saya sebagai pemungut sampah, tapi ini semuanya belum berakhir sampai disini, ini baru awalnya saja. Bencana yang sesungguhnya baru datang ketika saya pulang sekolah, badan nggak karuan, pusing dan demam tinggi. Orang tua saya menggangap ini hal biasa, karena dari semua anggota keluarga, sayalah yang paling berpenyakitan. Tapi menurut saya ini lain karena ada kejanggalan pada jari manis tangan saya yang sebelah kanan, bengkak, bengkok dan sedikit mati rasa.
Apa yang terjadi? Saya juga nggak tahu, keesokan harinya saya dibawa ke dokter langganan keluarga (walaupun bukan keluarga berada, tapi keluarga saya juga punya dokter langganan). Namanya juga dokter, disuntik, diberi obat, selesaikan administrasi keuangan dan beres. Saya pulang ke rumah dengan kondisi ”segar”, dapat merasakan udara dingin setelah seharian panas terus. Namun ini tidak bertahan lama, setelah obat yang diberikan habis, rasa badan nggak karuan, pusing dan demam tinggi muncul lagi. Dibawa ke dokter langganan lagi dan lagi, dan rasa badan nggak karuan, pusing dan demam tinggi datang lagi dan lagi. Hingga puncaknya, kondisi jari manis tangan sebelah kanan saya yang bengkak, bengkok, dan yang tadinya sedikit mati rasa, kini menjadi hidup luar biasa rasanya. Luar biasa sakitnya, mungkin nggak beda jauh dengan jari yang kepotong, hingga saya terjaga terus sepanjang malam.
Dua bulan saya merasakan penderitaan ini, hingga kondisi jari manis saya tersebut nggak bisa disebut manis lagi, sudah bengkak, bengkok, sakit, kulitnya mengelupas lagi, sial benar jari ”manis” saya tersebut. Oleh saran tetangga dekat keluarga kami, saya dibawa ke bukan dokter langganan keluarga saya. Ajaibnya sang dokter bukan langganan keluarga saya tersebut langsung memvonis bahwa saya digigit ular! Ya digigit ular hingga jari manis tangan sebelah kanan saya bengkak, bengkok, sakit dan mengerikan. Karena sudah akut, sang dokter hanya meminta cek darah dan banyak istirahat guna penyembuhan.
Kalau dilihat kebelakang, pada awalnya saya hanya mencoba menghindari yang namanya kerja paks… eh kerja bakti tersebut, supaya nggak kotor, saya melanggar perintah bapak guru dengan tidak membawa alat kerja paksa eh bakti maksudnya, lalu dengan sangat terpaksa menjadi pemungut sampah dengan tangan kosong, yang pada saat itu tidak saya sadari bahwa seekor ular yang mungkin kecil namun berbisa menancapkan taringnya yang imut pada jari manis tangan sebelah kanan saya, hingga pada akhirnya dengan sangat terpaksa pula saya harus menanggung penderitaan selama dua bulan lebih akibat dari keputusan bodoh yang saya ambil, yang saya anggap ide agak ”brilian” tapi memang bodoh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s