MIRACLE

Pada suatu malam yang sunyi, hanya suara radio yang menemani, ketika itu di radio, sang penyiar tengah membahas suatu tema, tema yang sangat dalam, yaitu kesetiaan. Seorang cewek yang memiliki masalah dengan yang namanya kesetiaan, mengirim sms, dia mempertanyakan dimana kesetiaan cowoknya, di akhir sms nya dia mereques lagu yang berjudul Miracle dari Celine Dion. Bisa di bayangkan betapa sedih dan kecewanya dia pada saat itu sehingga dia berharap datang sebuah keajaiban yang mampu mengubah kesedihan dan kekecewaanya itu.
Ini bukan tentang iklan pemutih wajah yang muncul pada tayangan televisi. Tapi ini berbicara tentang keajaiban, ya keajaiban, sesuatu yang terjadi di luar akal sehat, nalar dan pengertian kita, sesuatu yang mungkin tidak dapat kita percayai, namun nyata dan benar-benar terjadi. Mungkin orang awam, yang belum pernah melihat, mendengar, dan merasakan hal ini, akan berteriak histeris ”wow, keren…dashyat…luar biasa…” sebelum dia pingsan tentunya.
Untunglah saya bukan termasuk orang awam tersebut, saya nggak akan berteriak histeris ”wow, keren…dashyat…luar biasa…” ketika saya melihat kulit seorang model iklan yang tiba-tiba menjadi putih dalam sepuluh hari. Saya juga nggak akan menjadi orang yang kurang beruntung, atau yang dalam bahasa kerennya disebut apes, alias sial dikarenakan pingsan duluan, sebelum melihat keajaiban tersebut.
Boleh dikisahakan pada awalnya, saya ini termasuk jajaran murid-murid bodoh di sekolah saya pada waktu itu. Kalau jajaran kepolisian ini hebat, tapi ini jajaran murid-murid bodoh, atau kalau lebih di perhalus sedikit dapat diganti tolol, bego, atau yang lebih familiar di telinga kita yaitu goblok! Tapi itulah kenyataanya saya, mungkin orang tua saya pun akan ragu memanggil saya anak pintar. Pernah salah seorang guru matematika saya yang mungkin sudah kehabisan kesabaran dan muak menghadapi saya, memukul kepala saya sebanyak tiga kali dengan buku matematika yang tebalnya minta ampun dikarenakan saya tidak bisa menyelesaikan soal di papan tulis. Pernah juga seorang guru melemparkan buku tugas Bahasa Indonesia saya keluar, sehingga saya memungutnya seperti seekor anjing yang belum mengerjakan PR.
Puncak kebodohan saya terjadi pada masa SMP, dimana saya menjadi juara dua dari bawah dalam satu kelas. Cemoohan, ejekan, dan celaan selalu menemani saya dalam menempuh pendidikan. Bahkan seorang seorang sahabat yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri, malah menginjak-injak saya, begitu dia mengetahui bahwa saya termasuk jajaran murid-murid bodoh. Ini oleh orang-orang daerah sana menyebutnya sudah jatuh, tertimpa tangga, diinjak-injak pula. Saya merasa tak berguna, seperti sampah yang dibuang, dinjak-injak yang pada akhirnya masuk ke pembuangan akhir. Tidak ada yang peduli saya pada saat itu, orang tua terlalu sibuk bekerja, semua saudara saya hanya mengurusi diri sendiri masing-masing, di luar, “teman-teman” tidak menganggap saya sebagai teman. Saya butuh orang tua untuk bersandar, saya butuh saudara untuk bicara, saya butuh teman-teman untuk berbagi, tapi mereka semua tidak ada, mereka menjauh dari saya, mereka melihat saya sebagai sampah. Lengkap sudah penderitaan saya pada saat itu.
Yang saya butuhkan pada saat itu adalah sebuah keajaiban, sebuah keajaiban yang mampu mengubah dan menarik saya dari jerat jajaran murid-murid bodoh menjadi jajaran murid-murid yang patut diperhitungkan. Maka saya mencoba melakukan hal yang jarang atau bahkan tidak pernah saya lakukan pada saat itu yaitu berdoa, karena hanya ini yang bisa saya lakukan, kata orang, saat orang tua, saudara, dan teman-teman meningalkan kita, Dia, Tuhan nggak akan pernah meninggalkan kita. Maka sebuah keajaiban terjadi, otak saya tiba-tiba berputar, wow… berputar! Tapi yang saya maksudkan berputar di sini adalah berpikir, berpikir untuk mencari cara mengubah semua cemoohan, ejekan dan celaan menjadi pujian. Hanya satu yang dapat saya lakukan pada saat itu, belajar. Eh, belajar, bisa dibayangkan saya yang biasanya nggak pernah belajar, secara tiba-tiba menjadi seorang anak yang rajin belajar, terutama menjelang ujian. Maka hasilnya pun luar biasa, dari juara dua dari bawah dalam sekejab berubah menjadi juara dua dari atas! Saya pun menuai banyak pujian dari guru, teman, saudara bahkan orang tua saya tidak merasa malu lagi ketika mengambil raport saya.
Ada lagi salah satu keajaiban terbesar dalam hidup saya adalah ketika saya mengenal seseorang yang membawa dampak perubahan besar dalam hidup saya selama saya kuliah di salah satu universitas terkenal, “terbaik”, dan “terlaris” di kota Malang tercinta. Entah dia sadar atau tidak bahwa Tuhan telah memakai dia untuk membuat suatu perubahan terbesar dalam kehidupan saya.
Dia menjadi keajaiban bagi saya ketika dia menunjukkan kepada saya seperti apa seorang sahabat sejati itu. Padahal sebelumnya saya itu anti dengan yang namanya sahabat sejati, saya merasa sahabat sejati itu benar-benar tidak ada. Bukan tanpa alasan saya mengatakan bahwa sahabat sejati itu benar-benar tidak ada, karena saya pernah dikecewakan oleh seorang yang saya anggap “sahabat sejati”, seseorang yang malah menginjak-injak saya ketika saya jatuh.
Pada waktu itu, ketika awal-awal kuliah saya merasa kecewa terhadap keputusan saya sendiri yang memutuskan kuliah di salah satu universitas terkenal, “terbaik”, dan “terlaris” di kota Malang tercinta. Saya merasa keputusan saya keliru karena selama enam tahun saya bersekolah di tempat yang tepat, sekolah yang nenek bilang sekolah swasta, sekolah yang memiliki murid mayoritas Kristen, seperti saya. Tetapi sekarang, saya kuliah di tempat yang mayoritas bukan seperti saya. Pada saat itu saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, saya jauh dari orang tua dan semua saudara saya sibuk mengurusi urusannya sendiri. Yang dapat saya lakukan pada saat itu hanya berdoa, menyerahkan semuanya pada Tuhan. Maka pada saat itulah dia muncul sebagai keajaiban bagi saya, dia mengajak saya ke salah satu persekutuan rohani di kampus saya. Kalau di ibaratkan dia itu seperti serigala di tengah domba, eh, mungkin yang lebih tepat kambing di tengah domba, atau angsa di tengah bebek, atau… apalah terserah, yang jelas saya mau menggambarkan bahwa dia itu seperti pelita di tengah kegelapan!, yah…memang sulit untuk menggambarkan dia itu seperti apa. Namun saya selalu berharap ada yang mengerti maksud saya ini. Dia telah menunjukkan kepada saya, bahwa ditengah kekecewaan saya, masih ada teman yang peduli, dia nggak menginjak-injak saya, dia menolong saya ketika saya jatuh. Melalui dia, saya mengerti bagaimana seorang sahabat yang benar-benar sejati, seseorang yang ada di saat kita senang, dan tidak meninggalkan kita disaat kita jatuh, bahkan menolong dan membantu kita untuk berdiri.
Melalui tulisan ini saya mau menyatakan bahwa sebuah keajaiban itu bisa datang kapan saja, disaat kita benar-benar membutuhkannya, di saat tidak ada yang bisa kita lakukan, disaat yang hanya bisa kita lakukan hanya berdoa, menyerahkan semuanya pada Tuhan, maka Dia, Tuhan mengerjakan bagian-Nya, untuk menyatakan keajaiban-Nya.

Selamat Ulang Tahun!!! , 30 januari!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s