19 FEBRUARI 2009

Kamis tanggal 19 februari 2009, jam telah menunjukkan pukul 12.30 siang, akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba. Semua orang yang di fakultas termasuk dekan hingga ketua jurusan mengumpulkan semua mahasiswa yang telah selesai menghadapi ujian komprehensif di ruang F. Semua tegang, termasuk saya sendiri, saat ketua jurusan membacakan hasil ujian komprehensif. Nama terakhir yang dibacakan berbunyi sebagai berikut “Suryadi, dinyatakan lulus dengan nilai rata-rata 85,3 , A”.

Wow…! Ajaib, luar biasa, keren, spektakuler, gila…itulah sebagian isi di pikiran ku pada saat itu. Sesuatu yang hebat dan tidak terduga, menurut saya. Mungkin orang lain orang lain akan berkata “ahh, itu biasa…”, tapi mungkin mereka akan segera menarik perkatannya setelah membaca kisah dibalik skripsi saya berikut ini.

Beberapa hari setelah menyelesaikan magang di kantor pajak tepatnya awal bulan nopember 2008, saya mulai memikirkan yang namanya judul skripsi. Nggak ketemu juga sampai akhirnya saya tinggal pulang mudik ke kampung halaman, di Madiun, Maklum ikut mudik juga walaupun saya orang Nasrani. Nah! Baru setelah selesai mudik ini, saya mulai serius cari judul, ketemu judul tentang pengaruh. Langsung saja saya ajukan ke kajur, ehh… nggak taunya sama kajur di ganti analisis faktor, katanya “biar lebih menarik”. Yah… jalani saja, walaupun saya sendiri nggak jelas arahnya skripsi ini mau ke mana. Mungkin saya ini seperti sopir yang menjalankan mobil butut, mau pergi tapi nggak tahu harus bagaimana untuk sampai ke tujuan, atau seorang pilot yang menerbangkan pesawat, tapi nggak tahu harus lewat mana, atau seorang masinis yang menjalankan kereta, lalu gerbongnya ternyata masih ketinggalan di stasiun, atau seorang nahkoda kapal yang menjalankan perahu, eh… kapal, tapi layarnya ketinggalan di tanjung perak tepi laut, atau… atau… dan masih banyak lagi. Yang jelas saya mau menggambarkan bahwa saya buta sama sekali tentang analisis faktor tersebut.

Kemudian saya diberi dosen pembimbing, seorang dosen pembimbing yang gagah, perkasa, dengan model rambut seperti… seperti… (ini cuma seperti! Saya pertegas lagi S.E.P.E.R.T.I , bagaaimana sudah cukup tegas, atau kurang tegas…S. E ….(stop! Stop! Ini cuma dalam kurung lho, bukan dalam pasar!)) maksud saya seperti tentara gitu. Lama saya menunggu kemunculan dosen ini di kampus, batang mulut… hidung nya pun juga tak nampak. Akhirnya setelah dua minggu atau mungkin lebih barulah bayangan dosen ini muncul. Saya mengejar bayangannya seperti fans yang minta tanda tangan artis.

Eh… tak ada hujan, tak ada angin, tiba-tiba beledhek menyambar, membuat kepala saya adhem panas. Dia bilang nggak sudi, maksudnya nggak sudi bekerja sama dengan fakultas, entah ada apa ini, saya nggak berani tanya lebih dalam lagi, mungkin ada (tiiiiiiii…….tt).

Kembali lagi ke kajur, minta dosen pembimbing baru, dan akhirnya ketemu dosen wali saya sendiri. Yah nasib, baru dalam bentuk propoal saja sudah banyak salah dan kekurangannya, revisi terus…. sampai akhirnya masuk akhir bulan desember (padahal targetku semula bulan desember adalah bulan penelitian). Gawat, ditambah banyak teman yang sudah penelitian bahkan skripsinya sudah selesai, sedangkan saya, masih revisi terus bab satu dua dan tiga, alias proposal.

Saya tinggal pulang lagi ke Madiun, kali ini mudik natal dan tahun baru, ini baru benar-benar yang namanya mudik buat orang nasrani seperti saya. Memasuki awal bulan januari 2009, saya diminta dosen pembimbing mencari referensi di perpusnya salah satu universitas negeri tekenal di Malang, yang beriniSIAL “B”. Benar-benar sial saya pada waktu itu, selain kehujanan nggak punya KTM, karena sudah mati, surat pengantar dari kampus saya pun nggak dianggap oleh penjaga perpus universitas “B” tersebut. “Bayar Rp. 30.000 atau pergi” itulah yang menjadi slogan penjaga perpus universitas “B” tersebut. Saya pikir dengan bayar Rp. 30.000, belum tentu referensi yang menjadi incaran saya ada di situ, ditambah waktu itu kondisi keuangan saya lagi kritis dan waktu tampaknya yang tidak memungkinkan lagi untuk membuat kartu anggota perpus, tinggal satu setengah bulan lagi sebelum ujian komprehensif!!! Gila mueepet banget mungkin inilah yang disebut sindrome analisis faktor!

Nyerah dan ngomong ke dosen pembimbing itu jalan satu-satunya. Akhirnya dengan penuh keberanian saya bilang nggak bisa masuk perpus universitas “B” dan ketika dosen pembimbing menanyakan apakah saya sebenarnya bisa atau tidak mengerjakan judul skripsi ini, dengan penuh keberanian juga saya bilang nggak bisa!

Selesai? Belum, dampaknya saya harus ganti judul, buat proposal baru, dan yang jelas siap-siap untuk revisi lagi. Padahal ini sudah pertengahan bulan januari 2009, yang berarti bahwa batas akhir penyelesaian skripsi tinggal satu bulan lagi. Dua kali mengalami revisi, akhirnya dosen pembimbing mengijinkan untuk memulai menyebarkan kuesioner. Hingga minggu terakhir bulan januari 2009, saya baru mengajukan proposal skripsi saya ke perusahaan yang menjadi incaran saya selama ini.

Eh… tak ada hujan, tak ada angin, tiba-tiba beledhek menyambar lagi, proposal saya ditolak dengan alasan bahwa mereka sibuk, ditambah ditinggal pimpinannya ke Jakarta. Gawat! Gawat!, sampai memasuki awal bulan februari 2009, skripsi saya belum berubah, masih dalam bentuk proposal, padahal tanggal 19 februari 2009 ada ujian komprehensif. Saya diperhadapkan dengan pilihan teruskan atau bayar uang SPP Rp. 1.080.000, Mau-nggak mau saya harus segera ganti perusahaan, saya nggak mau tahu, pokoknya bulan ini saya harus kompre, saya pusing, stress, bingung, nggak tahu harus bagaimana, kemudian kakak saya menyarankan saya untuk menyerah saja. Apa MENYERAH!, tidak sekali-kali saya tidak akan menyerah, selama masih ada waktu, masih ada sekitar lima belas hari lagi sebelum ujian komprehensif. Saat itu di pikiran saya sudah mulai merasa bahwa Tuhan juga menyarankan kepada saya untuk menyerah saja, tapi saya lawan terus pikiran itu.

Minggu pertama di bulan februari 2009, dengan dukungan teman-teman, saya ubah proposal dan mulai cari perusahaan sejenis yang cocok dengan proposal saya. Sebuah keajaiban munculah “TM”, yang dengan segala kemudahanya, membuat segalanya menjadi cerah kembali, maksud saya “TM”, bukan nama sebenarnya, ini adalah nama sebuah perusahaan alias toko buku terkenal di Malang. Hari sabtu konfirmasi, selasa pagi tanggal 3 februari 2009 ngajukan proposal, sorenya lansung di setujui, dan besoknnya hari rabu tanggal 4 februari 2009, bisa langsung sebar kuesioner.

40 responden didapat kekuranganya di isi anak kos dan di isi sendiri, lalu ngomong ke dosen pembimbing dan disetujui. Sebuah awal yang bagus! Harapan muncul kembali! Hingga ngolah data pakai SPSS di bantu oleh teman saya, dan ketemulah hasil yang tidak signifikan. Ada apa ini, saya nggak tahu, yang jelas setahu saya hasilnya harus signifikan, apa nya yang salah? Cahaya mulai meredup kembali! Ditambah ketika saya serahkan kembali hasilnya ke perusahaan, tampaknya mereka tidak terima dengan hasil penelitianku. Gawat! Gawat! Gawat! Celaka 13, ketika saya minta surat penelitian dan referensi tentang sejarah perusahaan saya setengah dipersulit.

Sabtu malam, bertepatan dengan hari valentine, tanggal 14 februari 2009, merupakan hari terkelam dalam penyusunan skripsi saya. Kondisi tubuh drop, skripsi saya harus revisi total bab empat dan lima, kemudian dosen pembimbing marah, dan mendesak terus agar saya segera mendapatkan surat penelitian dan referensi tentang sejarah perusahaan, nggak tahu bagaimana caranya, pokoknya harus dapat, minimal dapat referensi tentang sejarah perusahaan dulu, kalau perlu malam itu juga. Atau kalau tidak saya harus bayar bayar uang SPP Rp. 1.080.000 dan lulus satu semester lagi.

Gawat! Gawat! Gawat! Gawat! Senin tanggal 16 februari 2009 adalah batas akhir penyerahan skripsi ke fakultas, apa yang harus saya lakukan? Masih belum mau meyerah? Belum, semalam suntuk dan tidak tidur saya merevisi skripsi. Besoknya minggu tanggal 15 februari 2009, dengan bantuan teman saya pergi ke perusahaan “TM”, dan berjanji akan menyerah jika gagal minta surat penelitian dan referensi tentang sejarah perusahaan “TM” tersebut. Benar, jawabanya tetap sama Tidak bisa hari ini, tapi selasa, padahal hari senin sudah batas akhir. Hari itu saya sudah dua kali mendatangi peruasahaan tersebut tapi gagal semua.

Gagal, gagal dan gagal, itulah yang ada di dalam pikiran saya pada saat itu, disaat genting yang seperti itu munculah internet, ya, dengan internet mungkin saya bisa mencari tentang sejarah perusahaan “TM”. Mungkin, eh, ajaib… di internet ada!!!, harapan kembali bersinar. Hujan deras tidak bisa menghalangi saya bersama teman saya pergi ngeprint dan langsung ke rumah dosen pembimbing.

Tampa banyak basa-basi, segera dikoreksi dosen pembimbing, dilihat, dan…., skripsi saya betul, hanya perlu sedikit revisi, dan ini berarti besok bisa dikumpulkan ke fakultas dan…. bisa ikut ujian komporehensif tanggal 19 febbruari 2009 ini. Benar-benar tidak bisa di percaya!!!

Hari selasa tanggal 17 februari 2009, kepala personalia perusahaan “TM” menepati janjinya, surat penelitian dan referensi ada di tangan. Kemudian tibalah saat-saat terberat dalam kuliah, yaitu menghadapi ujian komprehensif pada tanggal 19 februari 2009. waktu ujian sempat molor satu jam, tanpa alasan yang jelas. Dan pukul 09.00 pagi, dengan persiapan yang minim, akhirnya saya ujian, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh dosen penguji. Hanya sekitar 45 menit ujian selesai dan saya bisa bernafas sedikit lega hingga benar-benar lega setelah yudisium pukul 13.00 siang, tanggal 19 februari 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s